Your Location
Info Kita
Filosofi Rajutan Dalam Memaknai Hidup
Filosofi Rajutan Dalam Memaknai Hidup

Banyak orang berusaha keras untuk mencari kebahagiaan hidup. Seolah-olah bahagia itu meski dicari dan diraih dengan upaya keras.

Namun sebenarnya, bahagia itu sederhana (menurut orang zaman Now). Ya, benar juga sih, bahwa bahagia itu sederhana, karena bahagia itu kita yang membuatnya, bahagia itu homemade.

Setiap orang mempunyai cara masing-masing dalam memaknai hidup. Tujuannya hampir sama, yaitu menjadikan hidup ini bahagia.

Akan tetapi setiap insan memiliki jalan sendiri-sendiri untuk menggapai kebahagiaan itu. Mungkin ada yang berjalan mulus dalam mengarungi hidup, ada pula yang harus menghadapi jalan berliku. 

Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, yang terpenting adalah kita dapat menyelesaikan amanah hidup di dunia sebaik-baiknya untuk dipertanggungjawabkan nanti di kehidupan berikutnya (akhirat) dan menjadi akhir yang baik (Husnul Khatimah).

Untuk dapat memaknai hidup, kita dapat belajar dari filosofi rajutan.

Pertama
Ketika belajar merajut, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui sebagai dasar tusukan untuk membuat berbagai macam karya, seperti single crochet (sc), double crochet (dc), half-double crochet (hdc), slip-stich (ss), dan chain (ch).

Jika sudah menguasai tusukan dasar ini, selanjutnya dapat dikembangkan lewat teknik merajut dengan kombinasi beberapa jenis tusukan untuk mendapatkan hasil yang menarik.

Dalam hidup, kita harus memiliki hal dasar sebagai fondasi dalam beraktivitas. Seperti dasar ilmu agama, attitude, empati, respek terhadap sesama. Hidup tentu akan indah jika masing-masing orang mampu menyelaraskan dasar hidup tersebut ke dalam tingkah lakunya sehari-hari.

Kedua
Ada pula perajut yang senang membaca pola dalam membuat sebuah karya rajutan, namun ada juga yang lebih senang berkreasi dan ber-improvisasi sendiri tanpa melihat pola.

Seperti halnya manusia, ada yang suka menjalani hidup dalam keteraturan, ada juga yang memilih hidup dengan penuh kejutan atau surprise.

Apapun hidup yang ditempuh, tentu tergantung manusia itu sendiri, yang penting tujuannya adalah bahagia.

Ketiga
Ada berbagai macam benang yang berbeda untuk sebuah rajutan, ada benang polos, benang sembur, polyster, nylon, katun, bulky, lokal maupun impor. Masing-masing orang, bebas menggunakan jenis benang yang diinginkan untuk membuat sebuah karya rajutan.

Apapun jenis benang yang digunakan, hasilnya akan sama yaitu sebagai sebuah rajutan. 

Sebagai manusia kita diciptakan oleh Allah swt, dengan berbagai keragaman unik yang berbeda satu sama lain. Beragam suku, budaya, adat, bahasa, dan latar belakang manusia yang berbeda-beda, namun menambah kaya pergaulan untuk saling mengenal satu sama lainnya.

Keempat
Dalam merajut diperlukan sebuah ketekunan dan kesabaran dan senantiasa belajar dari kesalahan.

Sebagai pemula dalam merajut, pasti awalnya akan mengalami kesulitan dalam mengaitkan benang tersebut.

Rasa kesal dan jengkel kerap terjadi jika benang yang dirajut tersangkut maupun salah perhitungan, akhirnya harus di bongkar dan di rajut kembali dari awal.

Namun itu semua adalah konsekuensi dalam menciptakan hasil karya rajutan, agar hasilnya sempurna. 

Dalam hidup, kesabaran ketekunan dan terus belajar dari kesalahan sangat diperlukan untuk meraih cita-cita dan yang lebih penting adalah proses bagaimana kita belajar untuk memeroleh hasil yang memuaskan.

Kelima
Dengan merajut, kita diajarkan untuk menghargai buatan tangan sendiri (handmade). Seorang yang membuat suatu karya rajutan kemudian diberikan kepada seseorang sebagai hadiah nilainya akan berbeda dibandingkan memberikan hadiah dengan membeli kado dari sebuah toko.

Hasil karya sebuah rajutan yang dibuat oleh tangan sendiri, hasilnya lebih berkesan dan betul-betul “sesuatu”, sulit diucapkan dengan kata-kata.

Keenam
Merajut itu bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk pria dan wanita. Jika menilik sejarah dimana asal muasal merajut itu dibuat oleh kaum pria pembuat permadani di Jazirah Arab. Jadi, merajut tidak identik dengan kaum perempuan, bahkan di beberapa kota, kegiatan merajut sudah dilakukan oleh kaum pria.

Banyak komunitas perajut yang juga memiliki anggota kaum pria yang aktif dalam menghasilkan karya rajutan. Dan ini mengajarkan kita, untuk tidak mengkotak-kotakkan sesuatu dengan identitas tertentu.

Dalam kehidupan keluarga pun demikian, tidak ada pekerjaan yang hanya harus dilakukan oleh perempuan, misalnya masak, mencuci, menyapu dan mengepel. Semua pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh setiap orang, bukan hanya perempuan.

Setiap orang memiliki hak untuk melakukan apa yang ingin dilakukan, seperti mewujudkan impian dan bebas memilih pekerjaan yang di senanginya. Namun ada rambu-rambu yang harus dijalankan dan dimuliakan, yaitu norma Agama.

Untuk menghasilkan rajutan yang sempurna, kita dituntut untuk terus belajar dan konsisten. Mempelajari teknik merajut, dan juga belajar membuat modifikasi rajutan utuk memberi variasi tersendiri.

Seperti halnya hidup, dimana masalah yang dihadapi akan terus bertambah dan bervariasi, maka kita juga harus terus belajar mendapatkan ilmu untuk mengahadapi masalah-masalah yang dihadapi.

Dan yang paling penting juga dalam merajut adalah, kita mendapatkan support atau dukungan dari berbagai pihak, sebagai energi dalam membuat karya nyata.

Sama halnya dalam hidup, dukungan dari orang-orang yang kita cinta adalah energi yang besar untuk kita terus berjuang dan berkarya di muka bumi ini.

Teruslah belajar, teruslah merajut untuk menghasilkan Maha Karya yang Indah.

Ditulis oleh : Yusuf Mauludin (Owner KoenaHandmade)