Your Location
Info Kita
Kecoa yang Menginspirasi
Kecoa yang Menginspirasi

Ditulis oleh : Yusuf Mauludin 


Seorang Chief Executive Officer (CEO) Google, Sundar Pichai pernah makan disebuah restoran yang membuat dirinya memiliki kisah inspiratif.

Saat dia sedang makan, tiba-tiba melihat pemandangan yang cukup unik. Ada seekor kecoa terbang dan mendarat di pundak wanita pengunjung restoran. Kemudian mengetahui ada kecoa menghinggapi tubuhnya, wanita itu berteriak ketakutan.

Dengan wajah panik dan tubuh gemetar, wanita itu melompat dan menyingkirkan kecoa itu dengan tangannya.

Namun ternyata kecoa itu hinggap di kerumunan pengunjung lain, sehingga semua orang bereaksi dan panik terhadap kecoa itu.

Meskipun wanita yang pertama sudah dapat menyingkirkan kecoa, namun hinggap ke pengunjung wanita lain sehingga seisi restoran gaduh gara-gara satu ekor kecoa.

Drama lainnya adalah kecoa itu masih ada di restoran, dan membuat keributan bagi pengunjung lainnya. Namun ketika kecoa itu hinggap di pundak pelayan restoran, ceritanya menjadi lain.

Pelayan restoran dengan sigap dan penuh percaya diri memerhatikan kecoa, lalu menangkap dan membuang ke luar restoran. Dan selesai sudah drama kecoa hinggap di pundak wanita (pengunjung).

Sambil menyeruput secangkir kopi, CEO Google Sundar Pichai mulai berpikir dan bertanya-tanya, apakah kecoa yang membuat keributan di restoran tersebut?

Jika memang kecoa yang membuat masalah, kenapa si pelayan restoran tidak merasa terganggu? Dia (pelayan) menangani peristiwa tadi dengan mendekati sempurna, dan tidak membuat kekacauan lainnya.

Kemudia Sundar Pichai mengerutkan dahinya, dan bertanya pada diri sendiri, lalu apa yang bisa saya dapatkan dari kejadian barusan?

Dari kursi tempat dia menyeruput kopi, mengamati insiden kecoa terbang ke pengunjung yang panik, sementara seorang pelayan restoran bisa dengan tenang mengusir kecoa. Berarti jelas bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan.

Ketidakmampuan kedua wanita pengunjung dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana restoran jadi kacau balau.

Kecoa memang menjijikkan, tapi ia akan tetap seperti itu selamanya. Tidak mungkin bisa kita ubah kecoa menjadi lucu dan menggemaskan. 

Begitupun juga dengan masalah, atau macet dijalanan, atau istri yang cerewet, teman yang berkhianat, bos yang sok kuasa, bawahan yang tidak penurut, deadline yang ketat, tetangga yang mengganggu, dan lain sebagainya.

Sampai kapanpun semua itu tidak akan pernah menyenangkan. Tapi bukan itu yang membuat semuanya kacau. Melainkan ketidakmampuan kita untuk menghadapi yang membuatnya demikian.

Yang mengganggu wanita itu bukanlah kecoa, tetapi ketidakmampuan wanita itu untuk mengatasi gangguan yang disebabkan oleh kecoa tersebut.

Disitu saya menyadari bahwa, bukanlah teriakan ayah saya atau atasan saya atau istri saya yang mengganggu saya, tapi ketidakmampuan saya untuk menangani gangguan yang disebabkan oleh teriakan merekalah yang mengganggu saya.

Bukanlah kemacetan lalu lintas di jalan yang mengganggu saya, tapi ketidakmampuan saya untuk menangani gangguan yang disebabkan oleh kemacetan yang mengganggu saya.

Reaksi saya terhadap masalah itulah yang sebenarnya lebih menciptakan kekacauan dalam hidup saya, melebihi dari masalah itu sendiri.

Apa hikmah dibalik kisah kecoa yang dialami CEO Google tersebut?

Kita mengerti, kita tidak harus bereaksi dalam hidup. Akan lebih baik kita harus selalu merespon.

Para wanita (pengunjung restoran) bereaksi, sedangkan pelayan merespon.

Reaksi selalu naluriah sedangkan respon selalu dipikirkan baik-baik.

Sebuah cara yang indah untuk memahami hidup

Orang yang bahagia bukan karena semuanya berjalan dengan benar dalam kehidupannya.

Dia bahagia karena sikapnya dalam menanggapi segala sesuatu di kehidupannya benar

Wallahualam

Semoga bermanfaat

#baitulmaalitqan
#itqan